Oleh: m3d14ku | 5 Maret 2013

Pembalut Bekas Pakai Tak Perlu Dicuci?

Meskipun kita sudah mengalami menstruasi sejak usia remaja, namun hingga kini masih banyak pertanyaan seputar cara penggunaan pembalut yang benar. Kebiasaan memakai pembalut yang disampaikan secara turun-temurun oleh keluarga tak pernah diketahui secara pasti kebenarannya, karena kita merasa lebih baik memercayainya saja. Agar tak salah lagi, cari tahu cara memilih pembalut yang pas dari dr Bramundito, SpOG, dan dr Susie Rendra, SpKK, dari Rumah Sakit Pondok Indah.

1. Cara pertama memilih pembalut yang pas adalah memilih permukaan pembalut yang halus. “Permukaan yang kasar mudah menyebabkan iritasi, terutama jika kondisi kemaluan sangat lembab,” papar Susie. Kedua, pilih pembalut berdaya serap tinggi agar kemaluan tidak mudah lembab. “Ketiga, tidak mengandung pewangi dan terakhir, cari pembalut bermaterial tidak terlalu padat agar sirkulasi udara di sekitar kemaluan tetap terjaga,” urai Susie.

2. Pernahkah kulit di area vagina Anda mengalami iritasi saat menggunakan pembalut? Menurut Susie, “Alergi atau iritasi yang dialami tiap wanita saat menggunakan pembalut berbeda-beda penyebabnya.” Bisa karena tidak cocok dengan bahan, terlalu tebal atau tipis, pewangi, atau bagian “sayap”.

“Jika alergi atau iritasi terjadi setelah penggunaan pembalut tertentu, segera ganti pembalut,” tegas Susie. Ia menegaskan, jangan merasa rugi dengan pembalut yang sudah telanjur dibeli serta segera gunakan pembalut merek lain.

3. Bicara soal “sayap” alias wing pada pembalut, Susie menuturkan, semua tergantung kenyamanan pemakai. “Ada yang cocok dan ada juga yang tidak suka sebab selangkangan mudah iritasi karena gesekan,” ucap Susie.

4. Apakah Anda terbiasa mencuci pembalut bekas? Menurut Susie, hal ini sama sekali tidak perlu. “Fungsi pembalut itu menampung darah kotor. Sifatnya yang disposable (dapat dibuang, Red.) memungkinkan produk ini dibuang setelah digunakan.” Jika Anda mencucinya, gel di pembalut justru akan keluar bersama darah dan mengotori area sekitar. “Ini malah tidak higienis,” tegas Susie.

Pembalut bekas justru harus disimpan di kantong kertas yang ramah lingkungan sebelum dibuang. “Setelah itu, cuci tangan dengan sabun sampai bersih,” pesan Susie.

5. Dalam sehari, perempuan harus mengganti pembalut sesuai volume darah yang keluar. “Jika sedang deras, usahakan sesering mungkin. Biasanya di hari-hari terakhir, kan, darah yang keluar tidak banyak lagi, gantinya bisa 1 – 2 kali saja,” papar Susie.

6. Pantyliner sebaiknya digunakan saat masa subur karena produksi cairan di fase ini lebih banyak daripada biasanya. Akan tetapi, jika Anda menggunakan pantyliner setiap hari, senantiasa perhatikan kondisi vagina. “Apakah ada keluhan? Seperti iritasi, alergi, gatal, atau lainnya? Jika ada, sebaiknya dihentikan,” kata Susie.

7. Pilihlah pantyliner atau pembalut yang tidak mengandung pewangi. “Kandungan pewangi pada pembalut danpantyliner berpotensi mengiritasi kulit, terutama bagi pemilik kulit kering,” ujar Susie.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: