Oleh: m3d14ku | 26 Februari 2013

Buy 1 Give 1

Pastinya kita sering mendengar promosi Buy 1 Get 1, dimana kalau kita membeli satu produk akan mendapatkan gratis 1 produk dari toko yang sama. Promosi seperti ini sudah sangat sering dilakukan oleh perusahaan untuk menarik pelanggan agar membeli produk mereka.

Tapi bagi saya yang juga pemasar, promosi jenis ini sudah basi dan boring. Kenapa? Karena promosi Buy 1 Get 1 mulai jadi tradisi bagi para pemasar. Kalau sudah nggak tahu mau buat strategi apa supaya penjualan meningkat, ya dipakailah jurus ini.

Pertanyaannya… kalau promosi berakhir, apakah pelanggan akan tetap membeli produk Anda? Belum tentu, kan?

Beberapa waktu lalu saya melihat promosi dari sebuah perusahaan sepatu di Amerika, mereknya TOMS. Kira-kira begini bunyinya, “Dengan setiap pembelian sepasang sepatu, TOMS akan memberikan sepasang sepatu baru kepada anak yang membutuhkan. Satu untuk Satu.”

Di tengah kebosanan pelanggan dengan promosi buy 1 get 1, TOMS hadir dengan menawarkan promosi buy one give one (BOGO). Setiap kita membeli sepasang sepatu baru TOMS, maka akan ada sepasang sepatu baru juga yang dipakai oleh anak kurang mampu.

Selain sepatu, pelanggan juga dapat membeli kacamata. Untuk setiap kacamata yang dibeli, TOMS akan membiayai pembuatan kacamata bahkan perawatan medis atau operasi bagi orang-orang yang membutuhkan terutama di negara berkembang.

Setiap pelanggan yang membeli produk TOMS secara tidak langsung juga sudah memberi pertolongan kepada satu orang yang membutuhkan. TOMS bekerjasama dengan organisasi kemanusiaan dan kesehatan dari berbagai negara berkembang untuk membantu mereka memberikan sepatu kepada anak-anak dan perawatan mata kepada orang dewasa yang membutuhkan.

Inspiring! Itulah cerita yang coba diangkat oleh TOMS dalam rangkaian strategi marketingnya sejak tahun 2006. Cerita yang menginspirasi merupakan salah satu cerita yang suka dibicarakan orang. Maka dari itu terjadilah word of mouth marketing atau pemasaran getok tular.

Blake Mycoskie, pemilik TOMS, tidak pernah beriklan di televisi. Ia hanya menciptakan cerita yang akan disampaikan oleh para pelanggannya kepada calon pelanggannya. Simpel kan?

Memang sih, pasti ada saja orang-orang yang kontra terhadap cerita tersebut, namun nyatanya banyak pelanggan yang membeli sepatu TOMS karena promosi BOGO. Ini terbukti dengan 1 juta pasang sepatu sudah dipakai oleh anak-anak yang membutuhkan hingga 1 September 2010.

Selain itu, kampanye One Day Without Shoes yang dilakukan oleh TOMS Shoes setiap tahunnya juga sukses besar di berbagai negara yang berpartisipasi. Masyarakat tergerak untuk beraktifitas tanpa alas kaki sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap anak-anak yang kurang mampu.

Dari TOMS, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.

Pertama, lakukan bisnis sesuai passion Anda. Banyak orang yang melakukan bisnis karena lagi nge-tren atau lagi ramai dibicarakan orang. Contohnya, ketika pasar smartphone sedang tinggi-tingginya, jumlah toko handphone tiba-tiba melonjak.

Semua orang mau jualan smartphone karena gampang laku. Apakah mereka sukses? Beberapa sukses, tapi ada juga yang berhenti di tengah jalan karena merasa jenuh dan kurang bisa mengelola tokonya.

Tapi beda halnya kalau Anda membuka usaha di bidang yang memang Anda sukai, seperti Blake Mycoskie pemilik TOMS. Karena suka mendesain sepatu, ia memutuskan untuk dagang sepatu. Alhasil ia menjalankan bisnisnya dengan baik dan menguntungkan, karena ia menyukai apa yang ia kerjakan.

Kedua, tambahkan ‘bumbu’ yang tidak digunakan oleh kompetitor. Bukan berarti Anda harus pergi ke dukun dan minta supaya usahanya laris, ya… Bumbu disini maksudnya adalah ide, inovasi, sesuatu yang tidak dimiliki oleh kompetitor Anda.

Jangan pernah menggunakan suatu strategi marketing hanya karena ikut-ikutan alias gak mau kalah sama kompetitor. Itu hanya akan membuat Anda berada di bawah kendali kompetitor.

Kembali pada Blake dengan sepatunya. Blake bukan cuma jualan sepatu, namun ia menambahkan ide kreatif supaya barang dagangannya tambah laku. Maka keluarlah program Buy One Give One (BOGO), dimana ia mengangkat isu sosial yang membuat orang lain senang saat membeli sepatunya karena bisa sekaligus memberi donasi.

Bukan hanya itu, lewat ide BOGO yang inspiratif, para pelanggan dengan senang hati untuk membicarakan dan mempromosikan produk TOMS kepada orang lain.

Ketiga, optimis pada bisnis Anda. Untuk setiap bisnis yang dijalankan, pasti akan ada pro dan kontra dari masyarakat. Nah… jangan sampai Anda fokus pada yang kontra dan menghalangi mimpi Anda untuk sukses.

Ketika menjalankan program BOGO, memangnya diterima 100% oleh masyarakat? Nggak kok. Tidak sedikit masyarakat yang mengkritisi programnya karena dinilai memanfaatkan isu sosial untuk meraih keuntungan.

Namun Blake tetap fokus dan optimis akan apa yang sudah dia jalankan. Ia mencintai setiap negative word of mouth yang datang menghampiri. Dan hasilnya, Blake sering dikategorikan sebagai pengusaha muda paling inspiratif dan inovatif dengan pendapatan lebih dari $40 juta sejak tahun 2006.

Jadi tahu kan apa jenis pemasaran yang dilakukan oleh TOMS hingga bisa sesukses saat ini? Jawabannya adalah WORD OF MOUTH MARKETING.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: