Oleh: m3d14ku | 18 Januari 2013

Imajinasi dalam Busana Siap Pakai

Ari Seputra bukan nama baru di kancah mode Indonesia. Setelah 13 tahun menjadi asisten perancang di Rumah Mode Prajudi, pada 2000 Ari meluncurkan label sendiri, Ari Seputra dan Elaborate by Ari Seputra. Sejak awal, Ari tertarik menekuni bisnis busana siap pakai. Namun, ketika pertama kali meluncurkan label, hasrat itu belum sepenuhnya terakomodasi.

”Kebanyakan orang Indonesia kalau beli baju dari desainer harus yang kelihatan mewah, pakai payet, bling-bling. Dulu masuk department store kurang jalan kalau tampilannya kelihatan sederhana. Padahal, mendesain baju yang terkesan sederhana juga bukan gampang, lho,” ujar Sari Seputra, istri Ari yang juga mitra bisnisnya.

Seiring berjalannya waktu, Ari dan Sari melihat hadirnya generasi baru dengan selera yang tak lagi bling-bling, lebih minimalis, tetapi dinamis. Bersama dengan itu, desainer muda Indonesia marak bertumbuh. ”Generasi yang datang belakangan ini lebih menghargai desain yang terkesan simpel. Cara berpikir desainernya juga lebih mengarah ke industri,” ujar Sari.

Berangkat dari pengamatan itu, Ari dan Sari menggandeng dua desainer muda, Ambar Pratiwi dan Inneke Margarethe, meluncurkan label Major Minor pada Juni 2011. Major Minor didedikasikan Ari sebagai busana siap pakai untuk kalangan muda dengan garis desain, detail, dan warna yang berkarakter.

Jualan gaya hidup
Membuat baju siap pakai yang terkesan sederhana, tetapi berciri kuat tangan desainernya bukan hal mudah. Ciri itu akan menghadirkan desain busana yang disukai dan bisa dikenakan sebanyak mungkin orang karena harganya lebih terjangkau. Namun, tak menanggalkan kebanggaan konsumen mengenakannya sebagai karya desainer.

”Tuntutan sekarang lain. Sekarang enggak cukup hanya jual baju, sudah banyak, tetapi harus jual gaya hidup. Desainer harus punya karya di tengah publik dan punya pasar,” ujar Sari.

Koleksi Major Minor yang bertajuk ”Festival of Colors”, misalnya, antara lain menggali inspirasi dari tradisi celup ikat Indonesia. Prototipe kain dibuat dengan teknik celup ikat sampai mendapat komposisi warna dan corak yang diinginkan. Kemudian, dibuat digital print dari situ. Siasat teknologi dibutuhkan karena dalam skala produksi industri, tak mungkin didapat corak yang persis sama untuk sekian potong baju dengan teknik celup ikat tradisional.

”Daripada akhirnya motif-motif Indonesia itu diambil produsen luar negeri dan dibuat dengan mesin cetak juga sama mereka, lebih baik kita yang pakai,” ujar Sari.

Dalam waktu setahun, Major Minor tidak hanya dijual di beberapa ritel terkemuka Jakarta, tetapi juga menempati gerai di Isetan, Singapura, dan saat ini tengah menyiapkan kontrak penjualan di jaringan ritel Harvey Nichols.

Memenuhi syarat
Konsep label yang dituangkan dalam setiap koleksi, harga bersaing, kualitas bahan, kapasitas produksi, konsistensi memperbarui koleksi, dan pengelolaan stok, adalah syarat yang harus dipenuhi desainer atau pemilik label untuk bertahan di bisnis ritel.

Sebagai desainer yang biasa mendesain pakaian adibusana dengan detail rumit, perancang Barli Asmara mengakui, dia mendapat tantangan cukup besar mengembangkan jalur bisnis siap pakai dan memasoknya ke ritel. Perancang yang busananya banyak diminati artis ini harus menyesuaikan karyanya dengan keinginan peritel.

Untuk koleksi terbaru yang terinspirasi budaya Dayak, misalnya, Barli disarankan mengurangi detail bordir. Bordir yang dibuat memenuhi permukaan gaun itu membuat harga busananya cukup mahal.

Siluet sederhana dan keleluasaan padu padan, misalnya jaket, ditegaskan Barli, merupakan konsep busana siap pakai yang ia usung. Namun, bahan, detail, dan kerumitan teknik pengerjaan, menurut Barli, membuat busananya tergolong high-end ready to wear. Untuk kelas ini, ia butuh segmen pasar yang spesifik.

”Harga gaun ini bisa jutaan rupiah, sementara department store ada yang ingin harganya ratusan ribu rupiah. Ini jadi pelajaran dan tantangan bagi saya. Mungkin saya harus mengurangi detail supaya harga bisa lebih murah, tetapi tetap bisa memperlihatkan unsur Indonesia,” kata Barli.

Pilihan untuk menekuni bisnis siap pakai juga tak membatasi desainer Toton Januar, yang mengusung label Toton, menuangkan imajinasi dalam karyanya. Pada koleksi yang terinspirasi tanaman karnivora kantong semar, misalnya, Toton merefleksikan paradoks pada sosok perempuan modern: lembut sekaligus kuat. Indah, tetapi juga menyimpan ”bahaya”.

”Saya ingin menawarkan gagasan tentang busana siap pakai yang berbeda, yakni bahwa busana siap pakai bisa juga jadi semacam investasi berharga bagi penggemar fashion,” kata Toton.

Pada potongan busana blus dan jaket atau blazer, Toton mengaplikasikan bordir kantong semar di beberapa bagian secara proporsional. Pada beberapa busana, misalnya, aplikasi bordir hanya tampak di bagian lengan atas, kerah, punggung, atau bagian depan busana.

Inspirasi kantong semar tidak hanya hadir sebagai aplikasi bordiran, tetapi juga potongan busana, kerah menyerupai lekuk bunga kantong semar pada blazer. Untuk koleksi siap pakainya ini, Toton bermain dengan bahan sutra, ottoman, katun, serta poliester campuran dalam perpaduan warna cerah dan kalem.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: