Oleh: m3d14ku | 20 Desember 2012

Padu Padan Busana dengan Kain Nusantara

Kesadaran masyarakat untuk melestarikan kain tradisional Indonesia sudah semakin meningkat. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya kreasi busana dari kain tradisional yang diolah lebih modern dan stylish.

“Kain-kain ini memang semakin populer, tapi penggunaannya baru sebatas dari satu daerah saja,” ungkap Ratna Maida Ning, Ketua Himpunan Ratna Busana, saat konferensi persfashion show “5 Windu Bhakti Himpunan Ratna Busana: Padu Padan Lintas Kepulauan” di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (5/12/2012) lalu.

Ratna menambahkan, umumnya perempuan Indonesia masih menggunakan 2-3 potong busana dalam satu tampilan, misalnya blouse atau kebaya yang dipadukan dengan kain serta selendang. Melalui fashion show ini, ia mencoba memberi alternatif lain kepada pecinta wastra Indonesia untuk lebih berani eksplorasi dalam padu padan kainnya.

“Kebaya panjang tidak harus dipadukan dengan batik.Tapi juga bisa dipasangkan dengan kain dari daerah lain, misalnya kain dari Bali dan selendang tenun Sumatera. Busana inilah yang disebut busana Nusantara,” paparnya. Penggunaan busana nusantara ini bertujuan untuk mengangkat kain-kain tradisional dari berbagai daerah yang nantinya akan mengangkat perekonomian daerah.

Pagelaran busana yang bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ) ini juga menggandeng lima desainer seperti Carmanita, Ghea Panggabean, Musa Widyatmodjo, Ronald V.Gaghana, dan Susi Lucon. Meski menggandeng desainer top Indonesia, busana yang dipamerkan bukanlah kreasi mereka, melainkan rancangan anggota Himpunan Ratna Busana (HRB). Para desainer berfungsi sebagai penasehat mode dan tren saja.

“Di sini kami juga berdiskusi dengan desainer tentang bagaimana membuat busana tradisional yang stylish tapi tetap sesuai aturan baju tradisional yang sudah ditetapkan. Sehingga desainer juga tahu kalau mendesain busana nasional itu ada aturannya sendiri,” tuturnya.

Ada sekitar 45 kreasi padu padan yang ditampilkan dalam acara ini. “Garis besar busana yang ditampilkan adalah kemben. Karena ini busana yang benar-benar asli Indonesia,” ungkap Maya Soeharnoko, koordinator fashion show. Selain menghadirkan kemben, fashion show ini juga menampilkan, kebaya, baju kurung, dan baju bodo yang dipadukan dengan batik, tenun, dan songket dengan selendang warna senada.

Tidak seperti fashion show lainnya yang menampilkan model profesional, peragaan busana nasional ini diperagakan oleh ibu-ibu dari Serikat Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), pendukung dan pecinta wastra, survivor kanker payudara, dan beberapa artis seperti Dian Sastrowardoyo, Wulan Guritno, dan Rima Melati.

Selain bertujuan untuk mengangkat wastra nasional, fashion show ini juga bertujuan untuk menggalang dana bagi para penderita kanker payudara. “Kanker payudara sekarang ini sudah menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia karena (umumnya) terlambat dideteksi. Maka, dari dana yang terkumpul malam ini YKPJ dan RS Dharmais akan membeli dua unit mobil mamograf untuk mendeteksi dini kanker payudara bagi masyarakat kurang mampu,” jelas Rima Melati, survivor kanker payudara sekaligus pengurus YKPJ.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: