Oleh: m3d14ku | 26 November 2012

Melepas Tukik di Sangalaki, Yuk!

Pulau Sangalaki yang berada dalam gugusan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, merupakan rumah yang nyaman bagi para penyu untuk bertelur. Di sini mereka dilahirkan, di sini pula para penyu dewasa kembali untuk bertelur.

Di Sangalaki, Anda bisa mengantarkan tukik-tukik (anak penyu) ke lautan lepas pada sore hari. Pelepasan tukik dimulai dari pasir di tepi pantai, jadi tidak langsung ke dalam air laut.

Menurut Ketua Yayasan Penyu Berau, Vany Ahang, para tukik dapat merekam proses berjalannya mereka di pasir menuju lautan lepas. Maka dari itu, para tukik yang nantinya mampu bertahan hingga di atas 30 tahun, pasti akan kembali ke tempat yang sama.

Per harinya, rata-rata 20 penyu dewasa mendatangi Pulau Sangalaki untuk bertelur. Sekali bertelur, mereka mampu menetaskan hingga 100 telur. Memang banyak jumlahnya. Namun, perjalanan para tukik hingga dewasa tidaklah mudah. Banyak predator di lautan sehingga hanya beberapa yang mampu bertahan hidup.

Berjarak sekitar tiga sampai lima meter dari pinggir air laut, ribuan tukik siap dilepas. Kaki-kaki mungilnya akan berjalan dengan sendirinya ke dalam air itu. Perlahan mereka akan menghilang tergulung ombak dan berenang bebas.

Di sinilah kehidupan para tukik itu dimulai. Dari ribuan tukik yang dilepas, hanya puluhan yang mampu bertahan hidup. Hal ini disebabkan banyaknya predator di lautan lepas tadi.

“Makanya, kita berusaha sebanyak mungkin yang menetas,” ujar Vany.

Saat baru melepas tukik itu saja, burung elang laut sudah mengintai. Ketika tukik-tukik mulai berenang di lautan, elang tersebut terbang turun dan mengambil salah satu tukik dengan cakramnya yang kuat. Ya, ancaman predator memang begitu banyak saat mereka dilepas ke perairan. Elang tersebut bahkan bisa tiga sampai empat kali kembali untuk memangsa tukik-tukik yang kurang beruntung tersebut.

Musim bertelur para penyu ini adalah sekitar bulan Juli. Bulan Agustus hingga September merupakan puncak bertelurnya. Di perairan Berau ini, menurut Vany, terdapat dua jenis penyu, yakni penyu hijau dan penyu sisik.

Penyu sisik, menurut Vany, kini jumlahnya makin berkurang karena maraknya perburuan. Salah satunya adalah perburuan manusia yang menggunakan penyu sisik untuk kerajinan tangan, seperti kalung dan gelang.

“Penyu sisik berkurang. Hanya satu sampai tiga ekor saja dalam setahun yang naik untuk bertelur. Banyak suvenir dari tempurung penyu sisik. Salah satunya perburuan itu yang buat berkurang,” ujarnya.

Penyu ini pun akan datang untuk bertelur pada tengah malam. Untuk itu, pada malam hari tidak diperkenankan menyalakan lampu di pantai tanpa seizin petugas. Hal ini bisa mengurungkan niat para penyu untuk bertelur. Pulau ini pun harus dijaga kelestariannya agar para penyu mau kembali. Jika tidak, penyu akan mencari pulau lain yang lebih bagus.

“Di mana dia menetas, dia akan kembali di situ. Dengan catatan, di sini pantainya masih bagus,” terang Vany.

Selain Sangalaki, ada enam pulau lain yang menjadi favorit penyu. Pulau tersebut pun nantinya akan menjadi kawasan konservasi yang dilindungi. Pulau tersebut adalah Pulau Bilang-bilangan, Pulau Mataha, Pulau Derawan, Pulau Saemama, Pulau Belambangan, dan Pulau Sambit.

Melepas tukik di pinggir pantai Pulau Sangalaki pada sore hari, pengalaman berwisata yang menyenangkan, bukan? Begitu pula dengan menyaksikan mereka saat bertelur di tengah malam. Anda pun sekaligus bisa berperan membantu pelestarian para penyu ini. Yuk, melepas tukik di Sangalaki!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: