Oleh: m3d14ku | 20 November 2012

Ekspresi Jiwa Nana Melalui Bunga

Seluruh dinding, dari ruang dalam hingga beranda rumah yang cukup luas di Jalan Rungkut Asri 67-69 Surabaya, dipenuhi lukisan. Ditata secara apik.

Si empunya rumah yang juga melahirkan karya lukis tersebut, Hajjah Nana Tommy Sunartomo Masdjedi, 65 tahun, tidak sedang menggelar pameran. Sang suami, Tommy Sunartomo, kerap mengatakan apa pun hasil pekerjaan tidak boleh dipamer-pamerkan.

Lalu Nana, panggilan akrab wanita kelahiran Lawang, Malang, itu menyebutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada sang suami yang telah mendukungnya terus mendalami dunia seni melukis. “Dengan cara seperti ini saya ingin mengatakan kepada suami saya tercinta, ini, lho, hasil dari pembelian cat, kuas dan kanvas dari uang yang suami berikan,” ujar Nana.

Boleh jadi Nana sekadar berseloroh. Sebab karya-karyanya yang ditampilkannya bersamaan dengan perayaan hari ulang tahunnya yang ke-65, Sabtu, 17 November 2012, penuh nuansa. Di balik karyanya pun kaya dimensi.

Lukisan-lukisannya memang didominasi bunga. Mantan Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Soeprato Soedjono, yang hadir dalam acara tersebut, mengutip pernyataan salah satu pelopor seni lukis modern Indonesia, S. Soedjojono, bahwa seni lukis itu adalah ‘Djiwa Kethok’ sang seniman.

Demikian juga yang dihasilkan Nana dan ditampikannya dalam berbagai ukuran kanvas diyakini sebagai ungkapan visual jiwa atau perasaan emosi sang pelukis. Selain itu tentu saja mewakili ekspresi genus atau gender feminitasnya.

Soeprapto mengakui sangat mengapresiasi bakat dan karya Nana. Sebab Nana mampu menyajikan bunga yang berbeda dengan aslinya karena perpaduan elemen warna. “Bunga yang harumnya tidak sekedar tercium oleh hidung melainkan mampu merasuk ke dalam hari,” tutur Soeprapto.

Bunga karya Nana dihasilkan melaui goresan kuas yang cepat penuh ekspresif serta sapuan warna-warna cerah. Nilai estetiknya diperkuat oleh gaya melukis yang tidak menampilkan bunga secara apa adanya melainkan melalui ekspresi yang menjadikan kuas di tangannya menorehkan cat tebal dan tipis.

Lukisan yang diberi judul Kecubung 1 adalah satu dari banyak contoh karya Nana yang kaya nilai esteiknya. Dominasi warna hijau tua, muda, diselingi warna kuning dan putih, lalu visualisasi kembang warga ungu, menjadikan lukisan yang dibuat 21 Oktober 2012 itu memiliki nilai harmoni yang tinggi.

Putri Kembarku adalah contoh lain yang tak kalah nilai estetikanya. Terinspirasi oleh tiga putri kembarnya yang kini sudah dewasa, Marina Surya Airlangga, Marisa Surya Airlangga, dan Marita Surya Airlangga, diekpresikan oleh Nana dalam bentuk tiga kembang berwarna putih kemerahan serta abu-abu yang dikelilingi lembaran-lembaran daum merah menyala. Batang-batang bunga yang hijau memperkuat latar belakang lukisan.

Karya Nana tidak melulu bunga secara artifisial. Simak lukisan yang diciptakannya tahun 2007. Diberi judul Menilai. Secara visual menggambarkan seorang penari Bali dengan liukan tangan yang gemulai. Namun tanpa mata, hidung maupun mulut. Bunga pada lukisan berukuran 50 centimeter kali 70 centimeter itu hanya terdapat pada mahkota (gelungan) di atas kepala sang gadis Bali.

Pada tahun 2007 juga Nana menghasilkan karya lukis, Barong Bali. Tahun 2012 Nana juga melahirkan lukisan abstrak yang diberi judul Relung Qalbu. Tidak ada sedikit pun bunga melainkan berupa sapuan aneka warna, merah, biru, hijau, kuing, dan jingga keputih-putihan pada bagian tengah. Berbentuk lingkaran. Jingga yang digambarkan sebagai hati yang paling dalam dikelilingi warna kuning, kemudian dikurung oleh warna hiaju tua dan muda sedikit semburat, dan pada lingkar luar tampak warna merah.

Nana kerap tenggelam dalam keasyikannya. Bahkan tak jarang dilandatrans (kerasukan). Dalam suasana seperti itu hal-hal yang berbau mistik menyertainya. Banyak di antara lukisannya yang diwarnai kejadian di luar nalarnya, seperti diuraikan dalam bukunya yang diluncurkan bersamaan dengan perhelatan, Menggapai Pelangi.

Suatu siang saat Nana sedang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya menggores kanvas tiba-tiba datang seorang wanita yang dibayagkan setengah umur, agak kurus, dengan rambut sebahu. Sang wanita meminta lukisan kembang sepatu warna merah, salah satu di antara lukisan yang digantung di dinding salah satu ruang rumah Nana.

Nana yang tetap mencurahkan konsentrasi menggerakkan kuas dan menyaput warna-warna di kanvas, spontan menjawab bahwa lukisan kembang sepatu warna merah bukan milik si wanita. “Lukisanmu ada di dalam, tergantung di tembok.”

Sejurus kemudian peristiwa aneh pun terjadi. Tiga orang pembantu Nana dibantu sopir pribadinya tak mampu menurunkan lukisan yang diminta si wanita. Nana meminta pembantunya mengambilkan dua genggam beras kuning. Satu genggam disiramkan kea rah lukisan dan segegenggam lainnya ditabur di bawah dan sekitar lukisan. Ternyata lukisan tersebut bisa diturunkan oleh si sopir.

Masalah tidak segera selesai. Lirih terdengar suara tangis. Nana menoleh dan terperanjat. Suara tangis ternyata berasal dari si wanita yang saat itu dalam pandangan Nana terihat lebih cantik dan berkulit bersih dari yang dibayangkan sebelumnya.

Sang wanita berkata bahwa judul lukisan bunga kembang kenanga berwarna kuning yang dipasang dalam kanvas ukuran 70 centimeter X 70 centimeter itu persis namanya, Galuh Chandra Kirana.

Memang benar. Lukisan yang terinspirasi bunga kenanga yang tumbuh di lereng yang indah di kawasan wisata Trawas, itu judulnya persis yang disebutkan si wanita. Lukisan itu pun diserahkan kepada si wanita. “Itu rezekimu, Mbak.”

Nana sudah sejak kecil mengenal dunia lukis. Saat dukuk di bangku SMP Nana sering diajak ayahnya berkunjung ke rumah sejumlah pelukis ternama, seperti Bagong Kosoedihardjo, Affandi, A.J. Le Mayeur, Roestamadji, Wiwiek Hidayat, Sapto Hudoyo, Soedibio, Karjono JS. Namun Nana mulai melukis pada usia 59 tahun, dan pertama kali melakukan pemeran tunggal saat berulang tahun ke-60.

Meski merasa terlambat mulai melukis, Nana sudah menghasilkan lebih dari 500 lukisan. Nama menyebut karya-karyanya sebagai gaya ekspresionis.

Nana pun memilik beragam kehalian lain. Pernah berlenggak-lenggok di cat-walk sebagai peragawati, Nana juga sangat mahir membordir, membatik, hingga merancang perhiasan.

Kendati demikian, Nana yang sudah dikaruniai dua cucu, buah perkawinannya dengan Tommy Sunartomo, ahli anestesi, itu akan terus berkarya dalam bidangnya, seni. “Dunia seni tak terpisahkan dari hidupku karena kaya akan kedamaian dan kebahagiaan. Seni itu indah, ada nilai rasa yang bisa menjadi teladan bagi anak, cucu, dan handai taulan.’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: