Oleh: m3d14ku | 19 November 2012

Produk Lokal “Go Global” Lewat Fashion Forward

 Kreativitas desainer Indonesia dalam merancang produk mode tak bisa dipandang sebelah mata. Banyak potensi bermunculan, namun minim dukungan. Baik dukungan dari masyarakat untuk lebih mencintai produk lokal dan memakainya dalam keseharian, juga dukungan berbagai pihak dalam pengembangan produk mode agar bisa sejajar di tingkat dunia dan memenuhi selera internasional.

Agar produk mode Indonesia bisa memenuhi kebutuhan berbagai kalangan, dalam dan luar negeri, penting bagi desainer untuk meningkatkan kapasitas dalam berkreasi dan menguasai bisnis mode. Jakarta Fashion Week (JFW) selama empat tahun telah memfasilitasi desainer Indonesia untuk unjuk karya, meningkatkan branding produk lokal. Di tahun kelimanya, pada JFW 2013, ajang mode ini bergerak selangkah lebih maju dengan program JFW Fashion Forward.

JFW Fashion Forward merupakan program kemitraan antara JFW, British Council, Centre for Fashion Entreprise (CFE) yang berbasis di London, Inggris, yang mendapatkan dukungan pemerintah Indonesia dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dua pakar dari CFE didatangkan ke Indonesia untuk memberikan workshop kepada delapan desainer Indonesia. Mereka adalah Toby Meadows, konsultan bisnis mode, pengajar, dan penulis buku “How to Set Up and Run a Fashion Label” dan pakar fashion branding Sanjeev Davidson.

JFW didukung Kemenparekraf dan British Council kemudian memfasilitasi desainer Indonesia untuk mendapatkan pendampingan dalam pengembangan bisnis sejak Maret 2012 hingga JFW 2013 berlangsung. Dalam sejumlah tahapan program di Jakarta, Direktur CFE Windy Mallem juga terlibat dalam peningkatan kapasitas desainer Indonesia.

Setelah menggali ilmu bisnis fashion dari para pakar internasional, di JFW 2013, kapasitas desainer pun teruji. Tak hanya dengan menampilkan koleksi busana siap pakai yang siap memasuki pasar dunia. Namun desainer juga perlu menunjukkan kemampuan mempresentasikan produk fashionnya di hadapan para buyer internasional yang didatangkan di ajang JFW 2013.

“Satu langkah kemajuan di tahun kelima, yakni dengan Fashion Forward, JFW meningkatkan kapasitas desainer dan mempromosikan serta memperdagangkan produk fashion Indonesia di luar. Buyers dari mancanegara akan datang, baik website ternama untuk pakaian anak muda, juga department store dari Korea. Buyer dalam negeri juga datang. Desainer yang sudah dilatih akan teruji di sini. Ini langkah awal, semoga tahun depan jumlah buyer akan bertambah,” jelas Svida Alisjahbana, Ketua Umum JFW 2013, saat konferensi pers Jakarta Fashion Forward di Function Room, Plaza Senayan, Jakarta.

Pembukaan Buyer’s Room pada Kamis (8/11/2012) di JFW 2012 menjadi awal dari pertemuan delapan desainer terlatih dengan buyer potensial dari dalam dan luar negeri.

Harapannya, desainer Indonesia dapat merepresentasikan koleksi busananya dalam area pameran dengan baik, sehingga bisa membuka peluang bisnis fashion di tingkat internasional. Kesiapan desainer dalam menggaet perhatian bahkan membuat kesepakatan bisnis dengan pelaku bisnis ritel fashion, menentukan masa depan produk mode Indonesia.

Toby Meadows menilai, program Fashion Forward ini menunjukkan antusiasme tinggi dari pelaku industri fashion di Indonesia. Menurutnya, tidak banyak negara yang merealisasikan program semacam ini. Ini adalah program untuk bagaimana desainer memasuki pasar internasional.

“Desainer perlu memahami apa yang dibutuhkan di level internasional dari sebuah brand. Desainer tidak hanya menciptakan produk, tapi harus tahu bisnis mode, pricing, manufaktur, strategi apa yang harus dilakukan, promosi, target pasarnya. Di Indonesia banyak talenta di bidang kreatif dan bisnis yang berpikir cerdas,” tutur Toby yang melihat adanya komitmen serius dari pemerintah Indonesia dan JFW untuk memajukan fashion Indonesia.

Sebagai konsultan, Toby memberikan pendampingan kepada desainer Indonesia untuk terus berusaha meraih kepercayaan pelanggan. “Perhitungan biaya, branding, perlu menjadi perhatian. Isu besarnya adalah masalah sizing. Desainer Indonesia harus bisa berpikir untuk menciptakan koleksi yang bisa memenuhi kebutuhan pasar internasinal, terutama dari segi ukuran,” jelasnya.

Tantangan terbesar bagi desainer Indonesia, menurut Toby, adalah kesempatan menunjukkan kreasinya. Baginya, Indonesia memiliki warisan budaya yang kaya, craftmanship dari desainer Indonesia juga mengagumkan. Tantangan lain bagi desainer Indonesia untuk bisa mendunia adalah menemukan kekayaan budaya yang memiliki sensitivitas kontemporer agar produk Indonesia yang khas bisa diterima warga dunia.

Program pertukaran pengetahuan dalam Fashion Forward ini menjadi salah satu cara meningkatkan kemampuan desainer Indonesia untuk lebih jeli melihat kebutuhan pasar internasional, dan mengangkat kebudayaan lokal sebagai pembeda dari produk fashion dunia lainnya.

Jika desainer Indonesia telah memiliki kapasitas untuk mendunia, dukungan untuk unjuk karya di berbagai ajang mode juga perlu ditingkatkan. Baik dukungan pihak pemerintah dan swasta. Berupa fasilitas untuk tampil dalam ajang mode bergengsi, juga dukungan pendanaan yang tak kalah penting dalam menyukseskan perhelatan mode yang berdampak pada peningkatan apresiasi produk fashion.

“Indonesia bisa saja menjadi creative hub seperti London, dengan keterlibatan pemerintah. Banyak desainer Eropa belajar di London. London Fashion Week juga berjaya dengan banyaknya dukungan dari sponsor, terutama pendanaan. Ke depannya bisa saja pelajar internasional datang ke Indonesia karena Indonesia punya banyak tekstil yang fenomenal,” tutur Toby.

Ia menambahkan, London berhasil memposisikan diri sebagai salah satu pusat mode dunia juga karena dukungan lembaga seperti CFE yang mendampingi dan memfasilitasi desainer untuk memenuhi permintaan buyer yang seringkali menjadi hambatan bagi para desainer.

Adalah tantangan untuk desainer Indonesia yang berkesempatan meningkatkan kapasitasnya di bisnis mode melalui program Fashion Forward, untuk meraih kepercayaan dunia dan membawa produk Indonesia mendunia. Para desainer terpilih ini akan membuktikannya di ajang JFW 2013, baik di Buyer’s Room juga di peragaan busana JFW 2013. Mereka adalah Dian Pelangi, Albert Yanuar, Barli Asmara, Jeffry Tan, Yosafat Dwi Kurniawan, Bretzel (Imelda Kartini dan Yuliana), Cotton Ink (Carlene Darjanto dan Ria Sarwono), Major Minor (Ari Seputra, Sari Seputra, Inneke Margarethe, Ambar Pratiwi).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: